HEPINAR : Helm Anti Kantuk Kolaborasi Dua Fakultas

Berita Kegiatan Kemahasiswaan

Indonesia merupakan negara ketiga dengan populasi motor terbanyak di Asia. Hal ini tentunya akan memperbesar peluang terjadinya kecelakaan di Indonesia. Berdasarkan data Investigasi kecelakaan lalu lintas tahun 2010-2016 hampir setiap tahun terjadi kecelakaan dengan korban luka-luka. Tentunya hal tersebut akan merugikan negara baik secara material dan finansial.

Menurut penelitian (Marsaid dkk; 2013) kelelahan menyebabkan kecelakaan dengan persentase kematian 57,9%. Keprihatinan mahasiswa terhadap tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh kelelahan menginspirasi tiga mahasiswa yang berasal dari FKM dan Fakultas Teknik untuk menemukan helm yang berfungsi untuk mendeteksi kelelahan. Helm anti kantuk ini dinamakan HEPINAR (Helm Pintar). Tim ini beranggotakan Kukuh Priambodo (Teknik elektro 2015), Malikul Fanani (Teknik Elektro 2015) dan Iklil Sulaiman (FKM 2016).

Helm ini memiliki 2 konsep yang merupakan keunggulan dari generasi sebelumnya. Pertama, helm ini ditujukan untuk pencegahan kecelakaan dengan adanya vibrator, pengurangan kecepatan dan lampu sein yang menyala otomatis ketika pengendara terdeteksi mengantuk. Kedua, penanganan pasca kecelakaan/ancaman bahaya dengan adanya tombol emergency. Ketika tombol ini ditekan maka akan mengirimkan pesan permintaan pertolongan dan disertai link yang langsung terhubung GPS, hal ini akan mempermudah pencarian korban oleh kepolisian dan perkiraan evakuasi yang cepat oleh pihak rumah sakit terdekat.

Alat yang diberi nama HEPINAR ini terdiri dari 2 bagian kontrol yaitu di bagian helm dan karburator sepeda motor. Komponen yang bertugas untuk melakukan pendeteksian kelelahan ini terdiri dari 2 sensor yaitu sensor pembacaan sinyal otak (NeuroSky MindFlex) dan sensor denyut nadi (Pulse heart Sensor). Indikator dalam mengkategorikan orang dalam keadaan lelah yaitu adanya pancaran gelombang theta pada otak dan diikuti dengan menurunnya denyut nadi. Denyut nadi orang lelah rata-rata dibawah 80 BPM (Beat Per Minutes) sedangkan untuk sensor otak akan aktif mendeteksi gelombang theta sebesar 1800, apabila kedua sensor ini bekerja nilai pembacaan sensor inilah yang akan dijadikan masukkan untuk dilakukan pemrosesan oleh mikrokontroler arduino dan hal itu akan mengaktifkan servo untuk mengurangi kecepatan sepeda motor yang diikuti lampu sein kiri secara otomatis. Selain itu, ketika pengendara terdeteksi mengantuk motor vibrator akan bergetar dengan tujuan menjaga pengendara dalam keadaan sadar.

Salah satu  keunggulan dari HEPINAR ini yaitu dapat mengirim pesan kepada keluarga, aparat kepolisian dan rumah sakit terdekat bilamana pengguna kendaraan memerlukan bantuan emergency melalui tombol yang harus ditekan. Kemudian mampu mengurangi kecepatan yang akan membuat pengendara tidak memaksakan melanjutkan perjalanan.

HEPINAR ini masih akan dilakukan pengembangan dan perbaikan. Diharapkan alat ini dapat digunakan khalayak umum dan kemudian mampu menurunkan angka kecelakaan akibat kelelahan. (Iklil S)

%d bloggers like this: