Kolaborasi dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember bersama kolega dari FKM Universitas Airlangga menghasilkan sebuah penelitian kualitatif yang menyoroti secara mendalam pengalaman masalah kesehatan mental pada remaja di wilayah perkotaan. Penelitian ini mengangkat perspektif remaja secara langsung terkait stres dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Masa remaja kerap disebut sebagai fase “storm and stress” atau masa penuh gejolak. Pada periode ini, remaja mengalami berbagai perubahan fisik, hormonal, dan emosional yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap stres hingga masalah kesehatan mental. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius hingga usia dewasa.
Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengalaman remaja dalam menghadapi masalah kesehatan mental, khususnya stres, berdasarkan sudut pandang mereka sendiri.
Pendekatan Kualitatif Fenomenologis
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, yang memungkinkan peneliti memahami pengalaman subjektif remaja secara mendalam. Partisipan penelitian adalah remaja berusia 15–18 tahun, yang dipilih menggunakan purposive sampling, dengan total 12 partisipan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan durasi sekitar 30–60 menit per partisipan. Seluruh data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan makna utama dari pengalaman yang disampaikan remaja.
Stres Muncul Sejak Usia Dini
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman stres dan masalah kesehatan mental pada remaja telah muncul sejak jenjang sekolah dasar, berlanjut di sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Stres menjadi masalah kesehatan mental yang paling dominan dialami oleh remaja.
Berdasarkan pengukuran menggunakan Perceived Stress Scale (PSS), tingkat stres remaja dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Variasi tingkat stres ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Faktor Penentu dan Mekanisme Koping
Penelitian mengidentifikasi beberapa faktor penentu utama stres pada remaja, meliputi:
- Faktor keluarga, seperti pola komunikasi dan dukungan orang tua
- Faktor individu, termasuk kemampuan mengelola emosi
- Faktor akademik, seperti tekanan belajar dan tuntutan prestasi
- Faktor relasi, baik dengan teman sebaya maupun lingkungan sosial
- Faktor lingkungan sosial, khususnya konteks kehidupan di wilayah perkotaan
Dalam menghadapi stres, remaja menunjukkan beragam mekanisme koping, baik yang bersifat positif (misalnya mencari dukungan sosial atau melakukan aktivitas yang menenangkan) maupun negatif (seperti menarik diri atau memendam masalah).
Pentingnya Intervensi Dini Kesehatan Mental Remaja
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa masalah kesehatan mental pada remaja bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang sejak usia dini dan dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, upaya promosi dan pencegahan kesehatan mental perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, melibatkan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.Melalui kolaborasi antara FKM Unej dan FKM Unair, penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan kebijakan, program intervensi, dan layanan kesehatan mental remaja, khususnya di kawasan perkotaan yang memiliki tantangan psikososial semakin kompleks.
Referensi:
R. D. Rachmayanti et al., “Qualitative Phenomenological Study: Understanding the Experience of Adolescents’ Mental Health Problems in Urban Areas,” Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, vol. 20, no. 4, pp. 314-322, Dec. 2025. https://doi.org/10.14710/jpki.20.4.314-322