Pemandangan antrean panjang mahasiswa di gerai minuman kekinian telah menjadi pemandangan lumrah di sekitar lingkungan kampus Universitas Jember. Mulai dari es kopi susu gula aren, boba milk tea, hingga berbagai varian teh buah yang menyegarkan, minuman ini seolah menjadi “bahan bakar” wajib untuk menemani tugas maupun nongkrong sore. Namun, di balik kesegaran dan tampilannya yang menggoda, tim Germas FKM UNEJ mengingatkan adanya bahaya tersembunyi yang mengintai metabolisme tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan. Minuman manis ini umumnya mengandung pemanis tambahan seperti sirup jagung tinggi fruktosa yang hanya memberikan kalori kosong tanpa kandungan nutrisi penting seperti serat, vitamin, atau mineral yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas.

Banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa satu porsi minuman viral berukuran sedang sering kali mengandung gula yang jauh melampaui ambang batas aman. Berdasarkan anjuran WHO, konsumsi gula harian idealnya tidak lebih dari 25 gram atau sekitar 6 sendok teh. Realitanya, satu gelas boba milk tea dapat mengandung hingga 60 gram gula, yang berarti satu gelas saja sudah cukup untuk menghabiskan jatah gula selama dua hari lebih. Ketika tubuh dibanjiri gula dalam jumlah besar secara terus-menerus, pankreas dipaksa bekerja ekstra keras untuk memproduksi insulin, yang pada akhirnya dapat memicu resistensi insulin dan membuka pintu lebar bagi risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di usia muda.

Dampak buruk dari kebiasaan ini tidak berhenti pada risiko diabetes saja. Kalori berlebih yang tidak sempat dibakar oleh tubuh akan diubah menjadi lemak, terutama di area perut, yang kita kenal sebagai obesitas sentral. Kondisi ini menjadi titik awal dari berbagai komplikasi serius, mulai dari peningkatan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, hingga penyakit hati akibat penumpukan lemak. Fruktosa yang tinggi dalam minuman manis juga memicu peningkatan asam urat dan kolesterol jahat, yang dalam jangka panjang mampu merusak sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko terkena stroke di masa depan. Bahkan, kandungan gula yang tinggi ini juga bertanggung jawab atas kerusakan enamel gigi dan percepatan penuaan dini pada kulit akibat rusaknya kolagen.

Menanggapi fenomena ini, tim Germas FKM UNEJ mengajak seluruh mahasiswa untuk mulai bijak dalam memilih apa yang mereka minum. Langkah awal yang paling sederhana adalah dengan mulai membiasakan diri membaca label informasi nilai gizi pada kemasan produk dan memperhatikan kadar gulanya. Sebagai alternatif, air putih atau infused water dengan potongan buah segar tetap menjadi pilihan terbaik untuk menghidrasi tubuh tanpa beban kalori. Membatasi konsumsi minuman manis maksimal satu porsi kecil sehari atau menjadikannya sekadar hadiah sesekali (self-reward) adalah langkah kecil yang akan berdampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Melalui gerakan “Tantangan 7 Hari Tanpa Minuman Manis”, mahasiswa diharapkan dapat memutus siklus kecanduan gula demi masa depan yang lebih bugar dan produktif.