Lebih dari tiga dekade sejak pertama kali muncul, epidemi HIV di Indonesia masih terus berkembang dan secara signifikan memengaruhi kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (men who have sex with men/MSM). Tingginya prevalensi HIV pada kelompok ini tidak terlepas dari kuatnya stigma dan diskriminasi sosial, yang justru menghambat upaya pencegahan dan pengobatan.
Fenomena tersebut diangkat dalam publikasi ilmiah yang dilakukan oleh dosen Erwin Nur Rif’ah dan Dewi Rokhmah, bersama mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Dhea Ninda Putri. Penelitian ini mengkaji secara mendalam dilema keterbukaan diri (self-disclosure) MSM di tengah tekanan stigma dan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Stigma Membuat MSM Memilih Diam
Penelitian ini menyoroti bahwa stigma dan diskriminasi yang masih kuat di masyarakat mendorong banyak MSM di Indonesia menyembunyikan identitas dan orientasi seksual mereka, bahkan status HIV yang dimiliki. Kondisi ini menyebabkan MSM mengalami kesulitan dalam mengakses layanan pencegahan dan pengobatan HIV, serta meningkatkan risiko penularan HIV.
Padahal, keterbukaan diri merupakan aspek penting dalam upaya pencegahan HIV dan peningkatan kepatuhan pengobatan. Tanpa adanya ruang aman untuk terbuka, MSM kerap berada dalam posisi sulit antara menjaga keselamatan sosial dan menjaga kesehatan diri.
Pendekatan Fenomenologis
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
Untuk memahami dinamika keterbukaan diri, peneliti menggunakan teori Johari Window, dengan fokus pada dua area utama, yaitu hidden area (area tersembunyi) dan blind area (area buta).
Antara Hidden Area dan Blind Area
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar MSM berada pada hidden area, di mana mereka secara sadar menyembunyikan orientasi seksual dan status HIV akibat ketakutan terhadap stigma, penolakan, dan diskriminasi, terutama dari keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sosial.
Sementara itu, blind area muncul ketika lingkungan sekitar sebenarnya telah menebak atau mengetahui identitas MSM tanpa adanya pengungkapan secara langsung. Dalam beberapa kasus, lingkungan memberikan dukungan secara tidak eksplisit, namun pada saat yang sama tetap memperkuat tekanan sosial yang membuat MSM enggan untuk terbuka secara penuh.
Dinamika ini sangat memengaruhi keinginan MSM untuk mencari bantuan, mengakses layanan kesehatan, serta menyampaikan informasi penting yang dibutuhkan dalam upaya pencegahan HIV.
Pentingnya Lingkungan yang Inklusif
Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbukaan diri MSM sangat dipengaruhi oleh stigma, diskriminasi, serta respons lingkungan sosial. Lingkungan yang suportif dapat mendorong MSM untuk lebih terbuka, sementara lingkungan yang represif justru memperkuat sikap diam dan ketertutupan.
Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya strategi pencegahan HIV yang inklusif dan berorientasi pada pengurangan stigma, terutama di layanan kesehatan. Tenaga kesehatan dan institusi pelayanan perlu menciptakan ruang yang aman, ramah, dan bebas diskriminasi agar MSM merasa terlindungi dan berani mengakses layanan yang mereka butuhkan.
Referensi:
Rif’ah, E. N., Putri, D. N. ., & Rokhmah, D. . (2025). Between Silence and Survival: Social Stigma and Disclosure Dilemmas Among MSM in HIV Prevention Efforts. Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education, 13(SI2), 108–116. https://doi.org/10.20473/jpk.V13.ISI2.2025.108-116