Dua dosen bersama mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat kembali menghadirkan temuan penting terkait isu kesehatan mental dan sosial pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penelitian yang dilakukan oleh Iken Nafikadinidan Dewi Rokhmah, bersama mahasiswa Prodi Kesmas Ichda Naila Nabila, mengkaji bagaimana regulasi emosi memengaruhi keberanian ODHA dalam mengungkapkan status HIV mereka kepada lingkungan sekitar.

ODHA tidak hanya menghadapi tantangan fisik akibat penyakit, tetapi juga tekanan psikologis yang berat. Stigma dan diskriminasi sosial kerap memicu emosi negatif seperti kecemasan, rasa malu, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas hidup, kepatuhan pengobatan, hingga keterlibatan sosial.

“Pemahaman mengenai cara ODHA mengelola emosi menjadi kunci dalam merancang intervensi pendukung yang efektif dan berkelanjutan,” ungkap tim peneliti.

Pendekatan Kualitatif Mendalam

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi regulasi emosi pada ODHA, dengan fokus pada peran dukungan sosial dan lingkungan. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif, yang memungkinkan eksplorasi pengalaman ODHA secara komprehensif dan mendalam.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap:

  • 1 informan kunci
  • 8 informan ODHA
  • 5 informan tambahan dari kalangan keluarga dan teman sebaya

Selain itu, peneliti juga mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan 6 pendamping sebaya. Seluruh data dianalisis menggunakan analisis isi tematik untuk mengidentifikasi pola dan makna utama dari pengalaman para informan.

Dukungan Lingkungan Menjadi Faktor Kunci

Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi ODHA sangat dipengaruhi oleh penerimaan lingkungan dan ketersediaan dukungan sosial, khususnya dari keluarga dan pendamping sebaya. Interaksi sosial yang positif terbukti mampu meningkatkan motivasi ODHA untuk menjalani pengobatan secara rutin serta meningkatkan kepuasan hidup.

Sebaliknya, stigma dan diskriminasi yang masih berlangsung memicu munculnya respons emosional negatif, seperti kecemasan, rasa malu, dan isolasi sosial. Kondisi ini membuat sebagian ODHA enggan membuka status HIV mereka, bahkan kepada orang terdekat.

Implikasi bagi Upaya Pendampingan ODHA

Penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi emosi pada ODHA dibentuk oleh berbagai faktor yang saling terkait, mulai dari dukungan lingkungan, pengalaman traumatis, hingga perubahan fisik akibat penyakit. Oleh karena itu, intervensi yang berfokus pada pengurangan stigmapenguatan dukungan keluarga, serta optimalisasi peran pendamping sebaya menjadi sangat penting dalam menciptakan luaran emosional yang positif.

Melalui temuan ini, tim peneliti berharap hasil penelitian dapat menjadi landasan pengembangan program pendampingan ODHA yang lebih empatik dan berbasis kebutuhan psikososial, sehingga ODHA dapat merasa lebih aman, diterima, dan berdaya dalam menjalani kehidupan mereka.

Referensi:

Rokhmah, D., Nabila, I. N. ., & Nafikadini, I. . (2025). Does Emotion Regulation Encourage PLWHA to Disclore Their Status? -. Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education13(SI2), 20–28. https://doi.org/10.20473/jpk.V13.ISI2.2025.20-28