Tiga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas JemberLirista Dyah Ayu OktafianiNur Fitri Widya Astuti, dan Farida Wahyu Ningtyias, mempublikasikan hasil penelitian yang menyoroti pola konsumsi minuman berpemanis atau Sugar Sweetened Beverages (SSB) pada remaja serta kaitannya dengan risiko asupan gula berlebih.

Remaja dikenal sebagai kelompok usia yang rentan memiliki pola makan tidak sehat. Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh remaja (53,1%) mengonsumsi gula dalam jumlah tinggi, lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya. Salah satu kontributor utama kondisi tersebut adalah meningkatnya konsumsi minuman berpemanis, yang juga dikaitkan dengan peningkatan prevalensi obesitas remaja di Indonesia.

Kabupaten Jember, sebagai wilayah dengan perkembangan gaya hidup modern yang pesat, menunjukkan kecenderungan konsumsi SSB yang semakin tinggi sehingga perlu dikaji secara lebih mendalam.

Studi Observasional pada Remaja Jember

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola konsumsi SSB pada remaja serta hubungan antara karakteristik responden dengan jenis, jumlah, ukuran, dan frekuensi konsumsi SSB. Studi dilakukan menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada periode Juni hingga September 2024.

Variabel independen dalam penelitian meliputi jenis kelamin, usia, dan tingkat pendidikan, sementara variabel dependen adalah pola konsumsi SSB dalam kemasan, yang mencakup jenis minuman, ukuran saji, jumlah, dan frekuensi konsumsi.

Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) melalui Google Form. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square.

Hampir Seluruh Remaja Konsumsi Lebih dari Satu Jenis SSB

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden (97,75%) mengonsumsi lebih dari satu jenis SSB. Jenis minuman berpemanis yang paling banyak dikonsumsi adalah SSB berbasis teh, dengan proporsi 37,39%.

Dari sisi frekuensi, konsumsi SSB sebanyak 2–3 kali per minggu menjadi pola yang paling dominan, dialami oleh 48% responden. Temuan ini mengindikasikan bahwa minuman berpemanis telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi remaja sehari-hari.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara karakteristik responden dengan pola konsumsi SSB, baik dari segi jenis minuman yang dikonsumsi maupun frekuensinya. Hal ini menunjukkan bahwa SSB digemari oleh remaja dengan frekuensi yang cukup tinggi, terlepas dari perbedaan jenis kelamin, usia, maupun tingkat pendidikan.

Perlu Edukasi Gizi dan Intervensi Dini

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa konsumsi minuman berpemanis merupakan isu kesehatan masyarakat yang serius pada kelompok remaja. Tingginya frekuensi dan variasi SSB yang dikonsumsi berpotensi meningkatkan risiko asupan gula berlebih, yang dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap obesitas dan penyakit tidak menular.

Melalui publikasi ini, para peneliti menekankan pentingnya edukasi gizi sejak dini, penguatan peran sekolah dan keluarga, serta kebijakan pembatasan konsumsi gula untuk menekan risiko kesehatan pada generasi muda, khususnya di daerah dengan gaya hidup modern seperti Kabupaten Jember.

Referensi:

OKTAFIANI, Lirista Dyah Ayu; ASTUTI, Nur Fitri Widya; NINGTYIAS, Farida Wahyu. Consumption patterns of Sugar Sweetened Beverages (SSB) and its relationship with the risk of excess sugar intake among adolescents. AcTion: Aceh Nutrition Journal, [S.l.], v. 10, n. 3, p. 584-593, sep. 2025. ISSN 2548-5741. Available at: <https://ejournal.poltekkesaceh.ac.id/index.php/an/article/view/2287>. Date accessed: 08 jan. 2026. doi:http://dx.doi.org/10.30867/action.v10i3.2287.