Paparan pestisida masih menjadi masalah kesehatan kerja utama di sektor pertanian, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Kolaborasi dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember, kolega dari FKM Universitas Airlangga, serta Universiti Putra Malaysia (UPM) mempublikasikan hasil penelitian komprehensif mengenai risiko paparan pestisida terhadap penurunan kadar kolinesterase pada petani Indonesiamelalui pendekatan meta-analisis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setiap tahun terjadi sekitar 1 hingga 5 juta kasus keracunan pestisida pada pekerja pertanian di seluruh dunia. Penurunan kadar kolinesterase dalam darah merupakan salah satu penanda biologis penting yang menunjukkan terjadinya paparan pestisida, terutama jenis organofosfat dan karbamat, yang dapat berdampak serius pada sistem saraf.

Meta-Analisis Faktor Risiko Keracunan Pestisida

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan keracunan pestisida, khususnya yang berdampak pada penurunan kadar kolinesterase. Metode yang digunakan adalah meta-analisis, dengan menggabungkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dan telah dipublikasikan.

Proses meta-analisis dilakukan melalui empat tahap utama, yaitu:

  1. Abstraksi data dari studi terpilih
  2. Analisis statistik menggunakan perangkat lunak JASP versi 0.18.3
  3. Uji heterogenitas
  4. Penilaian bias publikasi

Berdasarkan uji heterogenitas, model random-effects digunakan untuk variabel penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan lama waktu kerja, karena ditemukan variasi antar studi yang signifikan (p = 0,001). Sementara itu, model fixed-effects digunakan untuk variabel higiene individu (p = 0,006).

Uji Egger’s test menunjukkan tidak adanya indikasi bias publikasi pada variabel penggunaan APD (p = 0,356) maupun lama kerja (p = 0,395), sehingga hasil meta-analisis dinilai cukup kuat dan dapat dipercaya.

Higiene Individu Jadi Faktor Risiko Terbesar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor secara signifikan meningkatkan risiko penurunan kadar kolinesterase pada petani, yaitu:

  • Penggunaan APD yang tidak memadai meningkatkan risiko sebesar 1,584 kali
  • Higiene individu yang buruk meningkatkan risiko sebesar 1,954 kali
  • Durasi kerja lebih dari 5 jam meningkatkan risiko sebesar 1,665 kali

Di antara faktor-faktor tersebut, higiene individu ditemukan sebagai faktor risiko paling dominan. Petani yang tidak segera mandi setelah penyemprotan pestisida, tidak mengganti pakaian kerja, atau kurang menjaga kebersihan diri memiliki risiko yang jauh lebih besar mengalami penurunan kadar kolinesterase akibat paparan pestisida.

Implikasi bagi Kesehatan Kerja Petani

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa pencegahan keracunan pestisida tidak hanya bergantung pada ketersediaan APD, tetapi juga pada perilaku higiene individu yang konsisten. Edukasi mengenai pentingnya mandi setelah penyemprotan, mengganti pakaian kerja, serta membatasi durasi paparan pestisida menjadi langkah krusial dalam melindungi kesehatan petani.Melalui kolaborasi lintas institusi dan lintas negara ini, para peneliti berharap hasil studi dapat menjadi dasar penguatan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pertanian, serta mendorong program promotif dan preventif yang lebih efektif untuk melindungi petani dari bahaya paparan pestisida.

Referensi:

Azizah, R., Jalaludin, J., Rizaldi, M. A., Nurika, G., Sholehhudin, M., Salsabila, Z. A., & Naura, Z. N. (2025). Risk Analysis of Pesticide Exposure Associated with Reduced Cholinesterase Levels in Indonesian Farm Workers: A Meta-Analysis. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia21(2), 155–165. https://doi.org/10.30597/mkmi.v21i2.43217