Perubahan iklim global tidak hanya berdampak pada kenaikan suhu bumi atau cuaca ekstrem, melainkan sudah mulai menggeser menu makanan yang tersaji di atas piring masyarakat Indonesia. Fenomena pergeseran pola konsumsi pangan ini berhasil diungkap melalui riset longitudinal selama 13 tahun yang dilakukan oleh Kurnia Ardiansyah Akbar, seorang dosen dan peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember.

Riset berskala nasional tersebut dipublikasikan secara global dengan judul yang cukup menarik perhatian dunia akademik: “Changing climate, changing plates: a 13-year national study of staple food consumption in Indonesia.”

Metode Penelitian: Mengawinkan Data Cuaca dan Data Pangan Nasional

Studi ini menggunakan pendekatan longitudinal untuk melihat tren jangka panjang hubungan antara indikator perubahan iklim dengan pola konsumsi pangan pokok masyarakat. Tim peneliti mengintegrasikan dua sumber data sekunder berskala nasional:

  1. Data Iklim: Diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang mencakup fluktuasi curah hujan dan perubahan suhu udara.
  2. Data Konsumsi: Diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang melacak tingkat konsumsi empat bahan pangan pokok utama di Indonesia, yaitu beras, jagung, singkong, dan ubi jalar.

Data-data yang bergerak selama 13 tahun tersebut kemudian dibedah secara statistik menggunakan analisis regresi linear untuk melihat seberapa kuat variabel iklim memengaruhi volume pangan yang dikonsumsi masyarakat.

Temuan Utama: Suhu Naik, Konsumsi Jagung Meningkat

Hasil pemodelan statistik menunjukkan temuan yang sangat spesifik dan signifikan terkait respon masyarakat terhadap peningkatan suhu bumi:

  • Dampak Kenaikan Suhu terhadap Jagung: Setiap kenaikan suhu udara sebesar 1∘C secara signifikan berhubungan dengan peningkatan konsumsi jagung di tingkat nasional (R2=0,832; 95% CI=0,018–0,062; p=0,002). Nilai koefisien determinasi (R2) yang tinggi menunjukkan bahwa variasi kenaikan suhu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjelaskan tren peningkatan konsumsi jagung ini.
  • Komoditas Lain Cenderung Stabil: Di sisi lain, analisis statistik tidak menemukan adanya hubungan yang signifikan antara perubahan variabel iklim (baik suhu maupun curah hujan) dengan volume konsumsi beras, singkong, dan ubi jalar.

Secara statistik, hasil ini mengindikasikan bahwa ketika iklim menjadi lebih hangat, terjadi pergeseran alami atau adaptasi di masyarakat untuk mengonsumsi jagung dalam jumlah yang lebih besar.

Jagung sebagai Simbol Ketahanan Pangan Masa Depan

“Hasil riset ini menunjukkan bahwa peningkatan suhu secara statistik berhubungan dengan pergeseran ke arah konsumsi jagung yang lebih besar,” urai Kurnia Ardiansyah Akbar dalam kesimpulan studinya.

Fenomena ini menempatkan jagung sebagai komoditas non-beras yang memiliki climate-resilient (ketahanan tinggi terhadap perubahan iklim). Di tengah cuaca yang semakin tidak menentu dan ancaman kekeringan yang kerap mengganggu produktivitas lahan sawah, jagung terbukti mampu menjadi pilar alternatif yang diandalkan masyarakat untuk menjaga ketahanan pangan (food security) serta pemenuhan kecukupan gizi nasional.

Melalui artikel ilmiah ini, peneliti mendorong pemerintah dan pembuat kebijakan untuk memberikan perhatian lebih pada diversifikasi pangan berbasis jagung. Optimalisasi potensi jagung sebagai pangan fungsional masa depan dinilai sebagai langkah adaptasi strategi nasional yang sangat realistis demi menghadapi krisis iklim yang masih terus berlangsung.