Anemia atau kekurangan sel darah merah pada ibu hamil masih menjadi tantangan besar di sektor kesehatan publik, khususnya di Kabupaten Jember yang menjadi salah satu wilayah prioritas penurunan angka kematian ibu dan bayi di Jawa Timur. Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi ini berisiko memicu berbagai dampak buruk bagi keselamatan ibu maupun janin yang dikandungnya.

Merespons permasalahan tersebut, Farhan Dwi Purnama, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember, melakukan studi mendalam di bawah bimbingan tim dosen pembimbing, Devi Arine Kusumawardani dan Andrei Ramani.

Riset ilmiah ini dipublikasikan dengan judul: “Maternal Anemia in the Third Trimester and Related Maternal and Fetal Outcomes: Results from a Study in Jember Regency.”

Metode Penelitian

Penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik melalui pendekatan cross-sectional ini membidik wilayah kerja Puskesmas Arjasa, Kabupaten Jember.

  • Populasi & Sampel: Populasi studi mencakup seluruh ibu hamil trimester ketiga dari Januari hingga Desember 2022 yang berjumlah 550 orang. Melalui metode simple random sampling, terpilih sampel representatif sebanyak 115 ibu hamil.
  • Sumber Data: Tim peneliti menggunakan data sekunder yang bersumber dari buku register klinik Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), buku kohort ibu hamil, serta buku pemeriksaan laboratorium Puskesmas Arjasa tahun 2022.
  • Analisis Data: Hubungan antar variabel diuji secara statistik menggunakan uji koefisien kontingensi.

Temuan Utama: Dampak Nyata Anemia Ringan

Berdasarkan hasil penelusuran data, sebagian besar responden memang tidak memiliki riwayat anemia. Namun, di antara kelompok ibu hamil yang terdeteksi anemia, mayoritas berada pada kategori anemia ringan (42,6%).

Meskipun sebagian besar berada di tingkat ringan, analisis statistik menunjukkan bahwa kondisi ini tetap membawa dampak signifikan terhadap luaran (outcome) persalinan:

  • Komplikasi Ibu Melahirkan: Ditemukan adanya korelasi yang signifikan antara riwayat anemia di trimester ketiga dengan buruknya luaran maternal atau kondisi ibu saat/setelah melahirkan (p-value=0,005, nilai C=0,291/ korelasi lemah).
  • Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR): Anemia pada akhir masa kehamilan terbukti berhubungan langsung dengan peningkatan risiko kelahiran bayi dengan berat badan rendah di bawah normal (p-value=0,015, nilai C=0,220 / korelasi lemah).
  • Variabel Tidak Signifikan: Di sisi lain, analisis data menunjukkan bahwa riwayat anemia pada trimester ketiga tidak memiliki hubungan atau korelasi yang signifikan dengan usia kehamilan saat melahirkan (prematur/lewat bulan) maupun angka kematian bayi baru lahir di wilayah tersebut.

Rekomendasi Penguatan Program Gizi Ibu Hamil

“Anemia maternal pada trimester ketiga terbukti berkaitan erat dengan tingginya risiko komplikasi pada ibu serta kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR),” jelas tim peneliti dalam kesimpulannya.

Sebagai langkah intervensi strategis, hasil riset ini merekomendasikan perlunya penguatan skrining anemia sejak dinipada setiap fase kehamilan. Selain itu, kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi suplemen zat besi dan asam folat (tablet tambah darah) harus ditingkatkan dan diintegrasikan secara ketat ke dalam program gizi ibu hamil.

Upaya preventif tersebut juga harus didukung oleh sistem rujukan medis yang kuat dan responsif di tingkat puskesmas guna meminimalkan risiko fatalitas saat persalinan tiba.