Profesi nelayan di wilayah tropis kerap diidentikkan dengan risiko tinggi terkena penyakit mikosis superfisialis, atau yang lebih dikenal luas sebagai infeksi jamur kulit. Namun, sebuah temuan menarik justru diungkap melalui riset terbaru dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ).
Penelitian yang berjudul “Faktor Risiko Kejadian Mikosis Superfisialis pada Nelayan di TPI Puger” ini digarap oleh mahasiswa Muhammad Fauzi Aldi, di bawah bimbingan dosen ahli Adistha Eka Noveyani dan Candra Bumi. Riset ini menelusuri lebih jauh apakah faktor-faktor konvensional seperti kebersihan diri (personal hygiene), masa kerja, dan tingkat obesitas benar-benar menjadi pemicu utama infeksi jamur pada nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, Kabupaten Jember.
Penelitian analitik observasional ini melibatkan 97 nelayan yang dipilih melalui metode quota sampling di wilayah kerja Puskesmas Puger. Pengumpulan data dilakukan secara komprehensif, meliputi kuesioner kebersihan diri dan masa kerja, pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk melihat status obesitas, serta pemeriksaan klinis langsung untuk mendiagnosis infeksi jamur.
Mendobrak Asumsi Faktor Risiko Konvensional
Hasil riset ini memunculkan fakta yang cukup mengejutkan. Dari 97 nelayan yang diperiksa, angka kejadian (prevalensi) infeksi jamur kulit tergolong relatif rendah, yakni hanya sebesar 10,3% (10 orang).
Lebih lanjut, analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor-faktor risiko konvensional dengan kejadian mikosis superfisialis pada kelompok nelayan ini. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- Kebersihan Diri (Personal Hygiene): Tidak terbukti memiliki hubungan yang bermakna secara statistik sebagai pemicu utama infeksi jamur pada sampel ini.
- Masa Kerja: Lama waktu seseorang berprofesi sebagai nelayan ternyata tidak meningkatkan risiko paparan infeksi secara signifikan.
- Status Obesitas: Kondisi berat badan berlebih yang biasanya rentan terhadap kelembapan lipatan kulit, pada kasus ini juga tidak menunjukkan korelasi yang kuat dengan kejadian infeksi.
Efek Pelindung dari Air Laut?
Lantas, mengapa angka infeksi jamur tergolong rendah di tengah lingkungan kerja yang keras dan rentan?
Berdasarkan kesimpulan riset, Muhammad Fauzi Aldi dan tim pembimbing menduga bahwa ada faktor lingkungan kerja yang justru berbalik menjadi tameng pelindung alamiah. Nelayan Puger setiap harinya terpapar oleh air laut dengan kadar garam (salinitas) yang tinggi. Paparan air laut bersalinitas tinggi secara terus-menerus ini dihipotesiskan memberikan efek protektif yang mampu menekan pertumbuhan jamur di kulit, sehingga nelayan menjadi tidak mudah terinfeksi (penurunan kerentanan).
Penelitian ini memberikan wawasan baru yang sangat berharga bagi literatur kesehatan keselamatan kerja (K3) maritim, khususnya di Indonesia. Meskipun faktor konvensional terbukti tidak signifikan dalam studi ini, perilaku hidup bersih dan sehat tetap disarankan sebagai fondasi utama menjaga kesehatan para pejuang lautan di TPI Puger.
Referensi:
Aldi, M. F., Bumi, C., & Noveyani, A. E. (2026). Faktor Risiko Kejadian Mikosis Superfisialis pada Nelayan di TPI Puger. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 11(1), 38-47. https://doi.org/10.14710/jekk.v11i1.30692