Angka kematian neonatal (bayi baru lahir usia 0–28 hari) masih menjadi kontributor terbesar pada angka kematian bayi di Indonesia. Fenomena ini erat kaitannya dengan faktor ibu, kondisi bayi, paparan asap rokok selama kehamilan, hingga akses terhadap layanan kesehatan.
Berangkat dari urgensi tersebut, Muhammad Azirul Afif Alvianto, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember, melakukan penelitian mendalam di bawah bimbingan dosen, Devi Arine Kusumawardani dan Ni’mal Baroya.
Riset ini dipublikasikan secara ilmiah dengan judul: “Risk factors of neonatal mortality in Jember Regency, Indonesia: A case-control study.”
Metode Penelitian
Studi observasional analitik ini menggunakan desain case-control (kasus-kontrol) untuk membandingkan kelompok bayi yang mengalami kematian neonatal dengan kelompok kontrol (bayi yang selamat).
- Sampel: Melibatkan 42 kasus dan 42 kontrol yang dipilih menggunakan metode simple random sampling.
- Pengumpulan Data: Menggunakan studi dokumentasi untuk memetakan karakteristik ibu dan bayi, serta wawancara langsung menggunakan kuesioner SHSES (Secondhand Smoke Exposure Scale) untuk mengukur tingkat paparan asap rokok pada ibu hamil.
Temuan Utama: Faktor Risiko yang Meningkatkan Bahaya
Sebagian besar ibu dari kedua kelompok berada pada usia reproduksi sehat (20–35 tahun), jarak kelahiran ideal (24–60 bulan), paritas 2–4 anak, tidak anemia, dan memiliki Lingkar Lengan Atas (LILA) normal (≥23,5 cm). Persalinan pun mayoritas sudah dibantu tenaga kesehatan di fasilitas medis.
Meski demikian, analisis statistik menunjukkan adanya beberapa faktor krusial yang secara signifikan meningkatkan risiko kematian pada bayi baru lahir di Jember:
- Komplikasi Ibu atau Bayi: Menjadi faktor pemicu tertinggi. Adanya komplikasi medis selama kehamilan atau persalinan meningkatkan risiko kematian neonatal hingga 4,2 kali lipat (OR=4,200).
- Berat Badan Lahir Ekstrem: Bayi yang lahir dengan berat badan ekstrem, baik terlalu rendah (<2500 gram) maupun terlalu besar (>4000 gram), memiliki risiko kematian 4,4 kali lipat lebih tinggi (OR=4,462).
- Usia Kehamilan Tidak Ideal: Persalinan prematur (kurang bulan) maupun post-term (lewat bulan) meningkatkan risiko kematian neonatal sebesar 3,5 kali lipat (OR=3,511).
- Metode Persalinan: Studi ini juga menemukan bahwa metode persalinan normal (vaginal delivery) memiliki sifat 0,194 kali lebih protektif atau jauh lebih aman menurunkan risiko kematian dibandingkan metode persalinan melalui operasi sesar (abdominal delivery) pada kasus-kasus yang diteliti.
Di samping itu, data lapangan juga menyoroti tingginya paparan asap rokok tingkat berat pada ibu hamil serta masih adanya kunjungan Antenatal Care (ANC) yang belum sesuai standar ideal.
Rekomendasi untuk Menurunkan Angka Kematian Bayi
“Kelahiran prematur/lewat bulan, komplikasi pada ibu dan bayi, berat lahir ekstrem, serta persalinan dengan operasi sesar merupakan faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan kematian neonatal,” tulis tim peneliti dalam kesimpulannya.
Sebagai langkah konkret, hasil riset ini menekankan pentingnya penguatan deteksi dini risiko tinggi pada ibu hamil serta peningkatan kualitas layanan pemeriksaan kehamilan (ANC). Langkah preventif ini krusial untuk mencegah komplikasi sejak awal, mengoptimalkan berat badan janin, dan mematangkan kesiapan persalinan.
Selain itu, diperlukan koordinasi rujukan medis yang lebih responsif dan terintegrasi di wilayah Kabupaten Jember guna mendukung strategi penurunan angka kematian neonatal secara tepat sasaran.