Penyakit Kaki Gajah atau Lymphatic Filariasis (LF) hingga kini masih menjadi salah satu tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, meskipun berbagai upaya eliminasi nasional terus digencarkan. Menyoroti urgensi tersebut, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ), Adistha Eka Noveyani, memimpin sebuah studi skala nasional untuk membedah akar risiko penyakit ini.

Penelitian bertajuk “Factors associated with lymphatic filariasis in Indonesia” ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara akademisi FKM UNEJ dengan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta STIKES Adi Husada. Riset ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pengaruh karakteristik sosial ekonomi, perilaku pencegahan, hingga kondisi lingkungan rumah terhadap risiko LF pada orang dewasa di Indonesia.

Untuk mendapatkan gambaran yang akurat di tingkat nasional, tim peneliti memanfaatkan mahadata (big data) dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Studi cross-sectional ini menganalisis profil kesehatan dari 570.618 responden dewasa menggunakan uji regresi logistik multivariabel.

Temuan Mengejutkan: Penyakit Tidak Pandang Bulu

Dari analisis ratusan ribu data tersebut, riset ini mengungkap angka prevalensi LF di Indonesia berada pada kisaran 0,14%. Namun, temuan yang paling menarik perhatian adalah pergeseran paradigma mengenai siapa yang paling berisiko terkena penyakit ini.

Berikut adalah rincian temuan kunci dari riset kolaborasi ini:

  • Status Sosial Ekonomi Bukan Penentu: Karakteristik sosio-demografis seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, indeks kekayaan, hingga lokasi tempat tinggal terbukti tidak memiliki hubungan statistik yang signifikan dengan risiko LF. Artinya, penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang status ekonomi maupun pendidikan.
  • Obat Nyamuk Sebagai Tameng Utama: Perilaku protektif terbukti menjadi kunci. Penggunaan obat antinyamuk secara rutin—baik berupa semprotan, bakar, maupun perangkat elektrik—berkaitan erat dengan penurunan risiko terkena LF hingga 25%.
  • Kualitas Fisik Bangunan Rumah: Kondisi lingkungan tempat tinggal juga menjadi catatan. Tinggal di rumah dengan atap non-permanen atau tanpa plafon (langit-langit) menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko kejadian LF, meskipun secara statistik peningkatannya tidak terlalu signifikan.

Rekomendasi Kebijakan Berbasis Data

Merujuk pada kesimpulan riset, Adistha Eka Noveyani beserta tim kolaborator menegaskan bahwa risiko penularan Kaki Gajah di Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa kaya atau miskin seseorang, melainkan seberapa konsisten mereka menerapkan perilaku perlindungan diri dan seberapa baik kualitas fisik rumah yang ditinggali.

Sebagai langkah tindak lanjut, riset ini merekomendasikan kepada pemerintah dan pemangku kebijakan kesehatan agar menggeser fokus strategi eliminasi. Akses universal terhadap obat antinyamuk yang terjangkau, serta program perbaikan infrastruktur perumahan yang tepat sasaran, harus diprioritaskan. Langkah ini dinilai sebagai strategi pengendalian LF yang jauh lebih efektif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Referensi:

Lestyoningrum, S.D., Noveyani, A.E., Faisal, D.R., Nugraheni, W.P., Nuraini, S., Pawitaningtyas, I. and Putri, L.M. 2026. Factors associated with lymphatic filariasis in Indonesia. Clinical Epidemiology and Global Health 37. Available at: https://doi.org/10.1016/j.cegh.2025.102277