Kawasan Ekowisata Bahari Kampung Blekok di Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, dikenal luas sebagai destinasi wisata unggulan yang memadukan pelestarian ekosistem pesisir, konservasi mangrove, dan perlindungan habitat burung air. Namun, seiring dengan terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, kelayakan fasilitas sanitasi lingkungan di kawasan tersebut kini menjadi sorotan utama.

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ), Farisa Desebrina Charisma, melakukan penelitian komprehensif terkait kondisi sanitasi di destinasi wisata tersebut. Riset berjudul “Sanitasi Lingkungan di Kawasan Ekowisata Bahari Kampung Blekok Kabupaten Situbondo” ini dirampungkan di bawah bimbingan dosen ahli, Khoiron dan Globila Nurika.

Penelitian yang dilaksanakan pada bulan April 2025 ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi fisik lingkungan, ketersediaan fasilitas sanitasi, serta infrastruktur pendukung di Kampung Blekok. Analisis ini sangat penting guna memenuhi standar amenitas dalam konsep pariwisata 3A (Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas) sekaligus mendukung terwujudnya prinsip Sapta Pesona pariwisata.

Mayoritas Komponen Sanitasi Belum Memenuhi Standar Kesehatan

Menggunakan metode observasional deskriptif-kuantitatif dengan teknik purposive sampling, tim peneliti melakukan pengumpulan data secara menyeluruh melalui observasi langsung, wawancara, telaah dokumen, hingga pengujian kualitas air di lokasi wisata.

Dari hasil penelitian tersebut, terungkap sebuah temuan krusial yang memerlukan perhatian segera dari berbagai pihak:

  • Hasil Evaluasi Sanitasi: Riset menunjukkan bahwa lima dari enam komponen sanitasi yang dievaluasi di kawasan Ekowisata Kampung Blekok saat ini masih berstatus belum memenuhi standar kesehatan yang dipersyaratkan.
  • Urgensi Fasilitas: Ketidaksesuaian standar ini dapat memengaruhi kenyamanan pengunjung, kebersihan lingkungan dasar, serta berpotensi membawa risiko kesehatan masyarakat jika tidak segera ditangani seiring dengan lonjakan jumlah wisatawan.

Rekomendasi Strategis untuk Pariwisata Berkelanjutan

Menyikapi temuan tersebut, Farisa Desebrina Charisma bersama tim dosen pembimbing merumuskan beberapa rekomendasi strategis. Salah satu poin utamanya adalah dorongan kuat untuk melakukan kolaborasi lintas sektor.

Penanganan masalah sanitasi di kawasan wisata pesisir tidak bisa hanya dibebankan pada pengelola atau masyarakat lokal (yang mengusung konsep community-based tourism), melainkan membutuhkan intervensi dan dukungan dari pemerintah daerah, dinas kesehatan, dinas pariwisata, hingga pihak swasta. Sinergi ini diyakini mampu mendukung terwujudnya pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism), menjaga kelestarian ekosistem lingkungan pesisir, serta secara konsisten meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di sekitar Kampung Blekok.

Riset dari FKM UNEJ ini diharapkan dapat menjadi rujukan berbasis bukti ilmiah (evidence-based) bagi para pemangku kebijakan dalam menata ulang dan melengkapi fasilitas sanitasi di salah satu primadona wisata Kabupaten Situbondo tersebut.

Referensi:

Farisa Desebrina Charisma, Khoiron, K., Globila Nurika, & Kholid Maulana. (2025). Sanitasi Lingkungan di Kawasan Ekowisata Bahari Kampung Blekok Kabupaten Situbondo (Studi di Kawasan Desa Wisata Kampung Blekok Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo). Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat4(3), 597–614. https://doi.org/10.54259/sehatrakyat.v4i3.5080