Penyakit difteri hingga kini masih menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, tak terkecuali di Kabupaten Jember yang kerap mencatatkan kemunculan wabah secara berkala. Menyoroti urgensi tersebut, mahasiswa Esa Hidayatul Khusnia melakukan riset mendalam terkait epidemiologi penyakit ini.

Di bawah bimbingan dosen Adistha Eka Noveyani dan Yunus Ariyanto, Esa merampungkan penelitian berjudul “Descriptive Epidemiology of Diphtheria Cases in Jember Regency, Indonesia, 2023–2024”. Riset ini bertujuan untuk memetakan dan mendeskripsikan distribusi kasus difteri di Kabupaten Jember selama dua tahun terakhir berdasarkan faktor orang, tempat, dan waktu.

Penelitian ini merupakan studi epidemiologi deskriptif yang memanfaatkan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Data yang dihimpun mencakup seluruh kasus difteri yang terkonfirmasi sepanjang Januari 2023 hingga Desember 2024, rekam jejak imunisasi, hingga laporan surveilans di lapangan. Untuk mendapatkan visualisasi yang akurat, riset ini menggunakan perangkat lunak Geographic Information System (GIS) guna melihat hubungan spasial antara cakupan imunisasi dan kemunculan kasus.

Temuan Kunci Riset: Kasus Mengelompok di Area Rentan

Dari hasil analisis yang dilakukan, riset ini mengungkap beberapa temuan penting terkait pola penyebaran difteri di Jember:

  • Jumlah dan Demografi Kasus: Tercatat ada 27 kasus difteri yang dilaporkan selama periode 2023–2024, atau setara dengan rasio 1,04 kasus per 100.000 penduduk. Mayoritas kasus justru menyerang kelompok usia anak-anak yang berumur 14 tahun ke atas.
  • Tren Waktu (Kurva Epidemi): Kasus difteri menunjukkan pola lonjakan pada waktu-waktu tertentu. Pada tahun 2023, puncak kasus terjadi pada minggu ke-23 hingga 27, serta minggu ke-28 hingga 31. Sementara pada tahun 2024, lonjakan kasus bergeser ke awal tahun (minggu ke-1 hingga 5) dan pertengahan tahun (minggu ke-23 hingga 27).
  • Pemetaan Spasial (GIS): Temuan paling krusial dari pemetaan spasial menunjukkan bahwa klaster kasus difteri secara konsisten muncul di kecamatan-kecamatan yang memiliki cakupan imunisasi rendah. Terdapat hubungan visual yang sangat jelas antara wilayah yang kurang terimunisasi dengan tingginya insiden difteri.

Perkuat Imunisasi Sebagai Benteng Utama

Berdasarkan temuan tersebut, Esa Hidayatul Khusnia bersama tim pembimbing menyimpulkan bahwa konsentrasi kasus difteri di Kabupaten Jember sangat erat kaitannya dengan rendahnya perlindungan imunisasi di suatu wilayah.

Hasil riset ini menjadi alarm sekaligus rekomendasi berbasis data bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan kesehatan. Penguatan program imunisasi dasar dan lanjutan, khususnya di komunitas-komunitas yang rentan dan terpencil, mutlak diperlukan untuk memutus mata rantai penularan dan mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di masa mendatang.

Referensi:

Khusnia, E. H., Noveyani, A. E., & Ariyanto, Y. (2026). DESCRIPTIVE EPIDEMIOLOGY OF DIPHTHERIA CASES IN JEMBER REGENCY, INDONESIA, 2023–2024: Epidemiologi Deskriptif Kasus Difteri di Kabupaten Jember Tahun 2023-2024 . Jurnal Berkala Epidemiologi14(1), 25–33. https://doi.org/10.20473/jbe.V14I12026.25-33