Indonesia, sebagai pemasok batu bara terbesar di dunia, terus berupaya meningkatkan produksi batu baranya setiap tahun. Namun, peningkatan ini membawa konsekuensi serius bagi kesehatan para penambang, yaitu peningkatan paparan debu batu bara yang berujung pada penyakit paru hitam (black lung disease). Sebuah studi retrospektif longitudinal yang dilakukan di tiga tambang batu bara di Indonesia, dengan menganalisis data pemeriksaan kesehatan tahunan dari tahun 2013 hingga 2021, menemukan bukti kuat tentang hubungan antara peningkatan produksi batu bara dan peningkatan kasus penyakit paru hitam.

Penelitian ini, yang menggunakan data dari catatan produksi batu bara nasional, data pertambangan, dan statistik penyakit paru hitam, menunjukkan tren peningkatan produksi batu bara yang konsisten di Indonesia selama 10 tahun terakhir, dengan kenaikan setidaknya 24,49%. Selama periode ini, pemeriksaan radiografi dada tahunan terhadap pekerja tambang batu bara Indonesia mengungkapkan 112 kasus penyakit paru hitam (13,88%).

Analisis regresi logistik mengidentifikasi beberapa faktor signifikan yang memengaruhi kejadian penyakit paru hitam di kalangan penambang batu bara. Faktor-faktor tersebut meliputi usia (AOR, 1,052; 95% CI, 1,023–1,082), status merokok (ya) (AOR, 1,895; 95% CI, 1,268–2,832), lokasi kerja (lapangan) (AOR, 22,431; 95% CI, 10,751–46,802), pengalaman kerja (AOR, 1,901; 95% CI, 1,709–2,116), dan ukuran perusahaan pertambangan (kecil) (AOR, 0,430; 95% CI, 0,199–0,927).

Temuan ini menggarisbawahi bahwa peningkatan produksi batu bara di Indonesia telah berkontribusi pada peningkatan kasus baru penyakit paru hitam di kalangan pekerja tambang batu bara di seluruh negeri. Lokasi kerja di lapangan, pengalaman kerja yang lebih lama, usia penambang dan status merokok menjadi faktor yang meningkatkan resiko. Sementara itu, perusahaan kecil nampaknya memiliki resiko lebih rendah, yang perlu di teliti lebih lanjut.

Studi ini menekankan pentingnya implementasi intervensi kesehatan kerja yang tepat dan langkah-langkah deteksi dini penyakit untuk melindungi kesehatan para pekerja tambang batu bara. Mengingat potensi konsekuensi kesehatan yang parah akibat paparan debu batu bara, upaya pencegahan dan pengendalian penyakit paru hitam harus menjadi prioritas utama dalam industri pertambangan batu bara di Indonesia. Penelitian ini memberikan bukti pertama yang kuat dari laporan produksi batu bara nasional, dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk tindakan preventif dan protektif yang lebih efektif.

Referensi:

Akbar, K. A., & Kallawicha, K. (2024). Black Lung Disease Among Coal Miners in Asia: A Systematic Review. In Safety and Health at Work (Vol. 15, Issue 2, pp. 123–128). Elsevier B.V. https://doi.org/10.1016/j.shaw.2024.01.005