Di berbagai sudut dunia, termasuk Indonesia, pemandangan rambut yang mulai memutih di tempat kerja kini menjadi hal yang semakin lumrah. Meningkatnya angka harapan hidup dan tuntutan ekonomi membuat banyak orang berumur 60 tahun ke atas tetap aktif mengayuh cangkul di sawah, mengoperasikan mesin di pabrik, atau berjam-jam menatap layar komputer di kantor.
Namun, pernahkah kita berpikir: apakah lingkungan kerja kita saat ini sudah cukup aman dan ramah bagi fisik mereka yang mulai menua?
Pertanyaan besar inilah yang menggerakkan Kurnia Ardiansyah Akbar, dosen dan peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM UNEJ), untuk melangkah lebih jauh. Bersama tim peneliti internasional, ia mengumpulkan dan menganalisis rekam jejak keselamatan kerja lebih dari 27 juta pekerja di seluruh dunia.
Penelitian bertajuk “Occupational Safety for Older Adult Workers: Global Trends, Risks, and Safety Interventions” ini membuka mata kita bahwa melindungi pekerja senior tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama yang menyaratkan “semua pekerja dianggap sama.”
Menyisir Data Ribuan Studi Global
Untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan akurat, Kurnia dan koleganya melakukan penelusuran ilmiah skala global mengacu pada standar riset internasional (PRISMA dan CASP). Mereka menyaring ribuan publikasi ilmiah yang terbit sejak tahun 2010 hingga akhir 2025.
Dari penyaringan ketat tersebut, terpilihlah 31 studi komprehensif yang secara khusus membedah dinamika keselamatan pekerja lansia. Data raksasa yang mewakili puluhan juta pekerja ini memberikan potret nyata mengenai apa yang sebenarnya dialami oleh para pekerja senior di lapangan.
Setiap Sektor, Berbeda Cerita dan Bahayanya
Salah satu temuan paling menarik dari riset ini adalah bahwa ancaman keselamatan yang dihadapi pekerja lansia sangat tergantung pada tempat mereka bekerja:
- Di Sawah dan Ladang (Pertanian): Musuh utama para petani senior adalah sengatan panas (heat stress), beban fisik yang terlampau berat, serta penyakit kronis bawaan yang membuat mereka mudah kelelahan dan rentan tumbang di lapangan.
- Di Lantai Pabrik (Manufaktur): Pekerja senior kerap berhadapan dengan tugas fisik yang berulang, risiko tergelincir atau terjatuh, serta masalah gangguan metabolik yang memperlambat refleks tubuh.
- Di Balik Meja (Perkantoran): Meski terlihat aman dari bahaya fisik, pekerja kantor senior memikul beban berupa stres psikososial, tekanan target yang tinggi, serta gangguan tulang dan otot (ergonomic strain) akibat terlalu lama duduk.
Selain faktor lingkungan kerja, variabel seperti jenis kelamin, ketidakpastian status pekerjaan (job insecurity), gaya hidup seperti merokok, hingga riwayat penyakit bawaan turut menjadi penentu seberapa aman seorang pekerja senior di tempat kerjanya.
Mengapa Aturan Lama Tak Lagi Mempan?
Seiring berjalannya waktu, tubuh manusia mengalami penurunan alami—mulai dari daya penglihatan, kekuatan otot, refleks, hingga waktu pemulihan yang lebih lambat saat cedera.
Sayangnya, sebagian besar aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di banyak perusahaan masih dirancang berdasarkan standar fisik pekerja muda yang prima. Pendekatan “satu ukuran untuk semua” ini kerap membuat pekerja senior berada dalam posisi yang paling dirugikan dan rentan mengalami kecelakaan kerja fatal.
“Menjaga pekerja lansia bukan berarti melarang mereka bekerja, melainkan menciptakan lingkungan yang menghargai dan menyesuaikan perubahan fisik mereka secara bijak.”
Mewujudkan Tempat Kerja yang Age-Friendly
Melalui riset ini, Kurnia Ardiansyah Akbar dan tim merumuskan beberapa langkah nyata yang bisa segera diterapkan oleh pemilik usaha, manajemen K3, maupun pembuat kebijakan:
- Ubah Desain Tempat Kerja (Redesain Ergonomi): Sesuaikan ketinggian meja, penataan alat kerja, serta tingkat pencahayaan agar mengurangi risiko cedera dan kelelahan mata.
- Atur Ulang Ritme dan Jam Kerja: Berikan fleksibilitas jam kerja dan alokasi waktu istirahat yang cukup, terutama bagi mereka yang bekerja di bawah paparan suhu ekstrem.
- Pelatihan Keselamatan yang Tepat Sasaran: Sediakan edukasi K3 yang disampaikan dengan metode yang sesuai dengan kapasitas kognitif pekerja senior.
Gagasan utama dari riset FKM UNEJ ini sangat jelas: mendukung Healthy Aging at Work. Tempat kerja ideal bukanlah tempat yang menyingkirkan mereka yang menua, melainkan tempat yang mampu menjaga mereka tetap aman, sehat, dan berdaya hingga masa purnatugas tiba.