Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global terbesar yang memicu beban penyakit (burden of disease) yang terus meningkat. Guna memastikan keberlanjutan program pengendalian TB, pemahaman mendalam mengenai manajemen dan dinamika biaya pengobatan menjadi hal yang sangat krusial.
Merespons tantangan tersebut, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM UNEJ) bersama tim kolega peneliti melakukan studi komprehensif bertajuk “The Cost Dynamics of Tuberculosis Comprehensive Programme: A Systematic Review”. Riset ini bertujuan untuk menyintesis literatur yang ada mengenai implikasi ekonomi dari program pengobatan TB, dengan fokus pada biaya program yang terkait dengan TB sensitif obat (Drug-Susceptible TB) dan TB resistan obat (Drug-Resistant TB).
Metode Kajian yang Akurat
Dalam menyusun riset ini, tim peneliti menggunakan pendekatan Systematic Review yang ketat dengan mengikuti panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Melalui kerangka kerja PICOS (Population, Intervention, Comparison, Outcomes, and Study Design), tim menyisir berbagai studi evaluasi ekonomi publikasi tahun 2013 hingga 2024 dari basis data bereputasi internasional seperti PubMed, Scopus, dan ScienceDirect. Dari proses seleksi tersebut, didapatkan 11 artikel utama yang memberikan wawasan regional yang beragam mengenai struktur biaya TB.
Temuan Utama: Efisiensi Biaya dan Kesenjangan Dana
Hasil tinjauan pustaka ini mengonfirmasi adanya beban keuangan yang sangat besar dalam manajemen penanggulangan TB. Namun, riset ini membawa kabar baik mengenai efektivitas intervensi yang terintegrasi.
Beberapa temuan penting yang berhasil dipetakan meliputi:
- Efektivitas Biaya Kombinasi Strategi: Strategi gabungan dalam program TB terbukti meningkatkan efektivitas biaya (cost-effectiveness) secara signifikan, yakni sebesar USD 9.050,00 per Disability-Adjusted Life Year (DALY) dan USD 443,62 per kasus TB yang ditangani.
- Tingginya Biaya Penemuan Kasus Pasif: Studi ini mengungkapkan bahwa biaya program penanggulangan TB tertinggi dilaporkan pada metode penemuan kasus pasif atau Passive Case Finding (PCF), yaitu mencapai USD 226,13 untuk pasien dewasa.
- Kesenjangan Pendanaan (Funding Gap): Peneliti mencatat adanya kesenjangan pendanaan yang cukup besar dalam skala global/regional, yakni mencapai USD 301,62 juta selama periode 2018 hingga 2022.
Rekomendasi Strategis untuk Kebijakan Nasional
Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim peneliti FKM UNEJ dan kolega menegaskan bahwa manajemen penanggulangan TB yang efektif memerlukan strategi keuangan yang komprehensif. Langkah ini penting untuk memitigasi beban ekonomi makro yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pengeluaran anggaran belanja nasional.
Sebagai solusi keberlanjutan program, riset ini merekomendasikan tiga langkah taktis bagi para pemegang kebijakan kesehatan:
- Mengombinasikan strategi penemuan kasus secara pasif (passive case finding) dan aktif (active case finding).
- Meningkatkan aksesibilitas pengobatan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah putus obat.
- Mendukung inovasi dan riset obat-obatan baru guna memperpendek masa terapi sekaligus meningkatkan efektivitas biaya program secara keseluruhan.
Melalui publikasi riset ekonomi kesehatan ini, FKM UNEJ terus membuktikan komitmennya dalam menyumbang pemikiran ilmiah yang solutif, tidak hanya di bidang klinis-epidemiologi tetapi juga dalam aspek tata kelola regulasi dan pembiayaan kesehatan masyarakat.
Referensi:
Lestyoningrum SD, Noveyani AE, Putro WG, Nugraheni WP, Faisal DR, Pawitaningtyas I, et al. The Cost Dynamics of Tuberculosis Comprehensive Programme: A Systematic Review. Malays J Med Sci [Internet]. 2026 Apr. 30 [cited 2026 May 25];33(2):48–63. Available from: https://ejournal.usm.my/mjms/article/view/mjms_vol33-no2-2026_4