Momen wisuda menjadi penanda purna tugas mahasiswa sekaligus awal pengabdian baru sebagai alumni. Pada prosesi wisuda Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM UNEJ) kali ini, nama Nafisah Aulia Abdhy menjadi perhatian hangat. Alumni baru FKM UNEJ ini tidak hanya resmi menyandang gelar sarjana kesehatan masyarakat, tetapi juga mengukir jejak teladan sebagai mantan pemimpin organisasi mahasiswa, peraih prestasi nasional, serta penghafal Al-Qur’an 30 juz yang istiqamah.

Kisah ini kian istimewa karena takdir seolah telah menyatukan langkah Nafisah dengan almamaternya sejak lahir. Nafisah lahir pada 2 Agustus 2003, tanggal yang persis sama dengan hari berdiri FKM UNEJ, tempat ia menimba ilmu hingga resmi lulus dan diwisuda menjadi alumni baru.

Kiprah Organisasi: Dari Ketua Himpunan hingga Jaringan Nasional

Sepanjang masa kuliah hingga diwisuda menjadi alumni, Nafisah dikenal sangat aktif berorganisasi. Di lingkup internal kampus, ia mendapat kepercayaan besar mengemban amanah sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (HIMAKESMA) FKM UNEJ. Di bawah kepemimpinannya, himpunan aktif menggerakkan berbagai kegiatan akademik maupun pengabdian masyarakat. Keseimbangan spiritualnya ia rawat melalui keaktifannya di Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam (UKMKI) Ash-Shihah FKM UNEJ. Tak berhenti di tingkat kampus, Nafisah juga mengepakkan sayap kepemimpinannya di tingkat nasional dengan aktif dalam Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI) untuk memperluas pengalaman dan wawasan keilmuan kesehatan masyarakat.

Raihan Prestasi Nasional & Kontribusi Nyata untuk Masyarakat

Sebagai mahasiswa yang kini resmi menjadi alumni berprestasi FKM UNEJ, Nafisah membuktikan bahwa padatnya jadwal riset dan organisasi tidak menghalangi dirinya mengukir tinta emas. Berbagai capaian membanggakan berhasil ia raih, di antaranya:

PDF

  1. Bronze Medal Lomba Essay Tingkat Nasional (2024) Diselenggarakan oleh Nusantara Muda di Bali, di mana gagasan kritisnya di bidang kesehatan berhasil bersaing di tingkat nasional.
  2. Pendanaan Pengabdian Masyarakat “Mahasiswa Peduli Stunting” (2024) Program pengabdian yang digagasnya bersama tim berhasil lolos seleksi pendanaan dari BKKBN Kabupaten Jember, fokus pada penanganan dan edukasi pencegahan stunting langsung di tengah masyarakat.

Resep Jaga Hafalan 30 Juz: “Luangkan Waktu, Bukan Menunggu Waktu Luang”

Menjaga hafalan 30 juz Al-Qur’an di tengah kesibukan kuliah hingga wisuda tentu memerlukan komitmen luar biasa. Nafisah membagikan pesan mendalam dari ustadzahnya yang menjadi pegangan utama selama ini:

“Luangkan waktu dan bukan menunggu waktu luang untuk murojaah hafalan, sehingga murojaah bukan lagi masuk dalam prioritas kegiatan namun sudah menjadi rutinitas harian yang harus dilakukan walaupun kegiatan perkuliahan dan ormawa sedang padat.”

Rutinitas murojaah ia selipkan di antara rutinitas harian, seperti setelah Subuh serta di antara waktu Maghrib dan Isya. Nafisah mengedepankan prinsip fleksibilitas kuantitas:

“Saya tidak selalu menggunakan waktu yang banyak dalam murojaah karena disesuaikan dengan kesibukan. Jika sedang banyak deadline tugas atau rapat organisasi berturut-turut, kuantitas murojaah dikurangi, misalnya minimal 1 lembar sehari. Fleksibel, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti. Kuncinya ada pada konsistensi dan prioritas,” jelasnya.

Seni Manajemen Waktu dan Skala Prioritas

Keberhasilan Nafisah menyelesaikan studi tepat waktu hingga resmi diwisuda didorong oleh manajemen waktu yang rapi. Ia rutin membuat to-do list harian mulai dari bangun tidur hingga istirahat, dengan berpatokan pada skala prioritas (tugas yang paling penting dan mendekati deadline diselesaikan terlebih dahulu).

Bagi Nafisah, kunci manajemen waktu adalah memberikan porsi yang tepat sesuai kebutuhan momen:

  • Saat Masa Ujian Akademik: Memberikan porsi waktu lebih dominan untuk persiapan ujian dan studi.
  • Saat Peak Program Kerja Ormawa: Memberikan porsi waktu lebih besar untuk koordinasi dan pelaksanaan program kerja.

Prinsip Hidup dan Pesan Orang Tua

Di balik keberhasilannya menyandang status alumni FKM UNEJ yang inspiratif, Nafisah memegang teguh motivasi spiritual yang selalu ia ingat:

“Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikuti.

Ia memandang bahwa menjalankan peran sebagai mahasiswa sekaligus menjaga hafalan Al-Qur’an bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan justru menciptakan keseimbangan hidup. Dorongan terbesar juga lahir dari amanah orang tuanya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an yang tetap berpendidikan tinggi. Pesan itulah yang membakar semangat Nafisah hingga sukses melangkah anggun di panggung wisuda FKM UNEJ.