Penyakit Tuberkulosis (TBC) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis hingga kini masih menjadi masalah kesehatan publik yang serius di Indonesia. Bakteri ini sangat mudah menular melalui percikan ludah (droplets) di udara, terutama pada lingkungan dengan kondisi sanitasi fisik rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan.
Di Jawa Timur, Kabupaten Ponorogo menempati peringkat kedelapan dalam angka kematian akibat TBC. Menariknya, wilayah kerja Puskesmas Kauman mencatat jumlah kasus TBC tertinggi di kabupaten tersebut, di mana sebagian besar penderitanya berprofesi sebagai petani.
Melihat adanya fenomena spesifik tersebut, Aziza Zahrotul Adha, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember, melakukan riset mendalam untuk memetakan pengaruh faktor lingkungan fisik rumah terhadap penularan TBC pada kelompok petani. Riset ini dibimbing oleh dosen pakar FKM, Citra Anggun Kinanthi.
Studi ilmiah ini dipublikasikan secara luas dengan judul: “THE INFLUENCE OF LIGHTING, FLOOR TYPE AND WALL TYPE ON THE PULMONARY TUBERCULOSIS IN FARMERS.”
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan case-control (kasus-kontrol) untuk membandingkan kondisi sanitasi rumah petani yang menderita TBC dengan petani yang sehat.
Sampel: Melibatkan total 78 responden yang berprofesi sebagai petani, terbagi rata atas 39 orang sebagai kelompok kasus (penderita TBC) dan 39 orang sebagai kelompok kontrol (sehat). Sampel dipilih secara acak menggunakan metode simple random sampling.
Pengumpulan Data: Menggunakan kombinasi data primer dan sekunder melalui teknik pengukuran langsung di lapangan serta observasi fisik rumah.
Analisis Data: Variabel yang diteliti meliputi angka kejadian TBC paru (variabel dependen), serta intensitas pencahayaan, jenis lantai, dan jenis dinding rumah (variabel independen). Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji regresi logistik.
Temuan Utama: Sinar Matahari Kurang, Bakteri TBC Berkembang
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan profil rumah tangga petani yang cukup kontras. Mayoritas responden sebenarnya sudah memiliki kondisi komponen bangunan yang layak, yakni jenis lantai yang memenuhi syarat kesehatan (79%) dan jenis dinding yang memadai (69%). Namun, sebanyak 72% responden ternyata tinggal di rumah dengan kondisi pencahayaan alami yang buruk atau tidak memenuhi standar.
Melalui analisis statistik regresi logistik, ditemukan fakta krusial berikut:
Pencahayaan Rumah Buruk: Terbukti memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan penularan TBC paru pada petani. Petani yang tinggal di rumah dengan pencahayaan alami yang buruk memiliki risiko 3,6 kali lipat lebih tinggi untuk tertular TBC dibandingkan mereka yang memiliki pencahayaan rumah yang cukup (OR=3,659; 95% CI:1,422–9,417).
Jenis Lantai dan Dinding: Hasil uji statistik menunjukkan bahwa jenis bahan lantai (p=0,366) dan jenis bahan dinding (p=0,113) tidak memiliki hubungan atau pengaruh yang signifikan terhadap kejadian TBC paru dalam studi ini.
Fakta ilmiah ini sejalan dengan karakteristik bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dikenal sensitif terhadap sinar matahari langsung. Ruangan yang gelap, lembap, dan kurang menerima paparan sinar ultraviolet menjadi lingkungan ideal bagi bakteri tersebut untuk bertahan hidup lebih lama di dalam rumah.
Kesimpulan dan Saran Preventif
“Pencahayaan alami yang tidak memadai di dalam rumah berhubungan signifikan dengan kejadian TBC paru pada petani. Sebaliknya, material jenis lantai dan dinding tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam penelitian ini,” urai tim peneliti dalam kesimpulannya.
Melalui hasil riset ini, Aziza Zahrotul Adha dan Citra Anggun Kinanthi merekomendasikan pentingnya edukasi kesehatan rumah sehat secara masif kepada masyarakat, khususnya kelompok petani di perdesaan. Promosi kesehatan harus difokuskan pada modifikasi perilaku dan fisik rumah, seperti rutin membuka jendela setiap pagi agar sinar matahari dapat masuk secara optimal, memasang genteng kaca, serta membersihkan area rumah guna memutus rantai penularan TBC secara mandiri dari lingkungan keluarga.