Anemia atau kondisi kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah masih menjadi momok kesehatan bagi remaja putri di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data riset kesehatan, prevelansi anemia remaja putri di negara berkembang mencapai 57,3%, sementara di Indonesia angkanya berada di kisaran 32%. Kurangnya asupan zat besi (Fe) dan protein menjadi pemicu utama yang dapat menurunkan sistem imun serta mengganggu prestasi belajar generasi muda.
Melihat urgensi tersebut, Jeni Dian Dianata, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember, berinovasi menciptakan produk pangan alternatif berupa cookies kaya zat gizi. Di bawah bimbingan tim dosen pakar, Farida Wahyu Ningtyias dan Sulistiyani, riset ini sukses mengoptimalkan potensi komoditas pangan lokal.
Riset ilmiah ini dipublikasikan dengan judul: “Optimization of Organoleptic Properties, Iron, and Protein Content in Cookies with the Addition of Sorghum Flour and Soybean Flour.”
Metode Eksperimen dan Pengujian Laboratorium
Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi-experimental) dengan pendekatan Posttest Only Control Group Design. Formulasi cookies dimodifikasi dengan menambahkan kombinasi tepung sorghum dan tepung kedelai dalam berbagai proporsi.
- Uji Kandungan Gizi: Analisis kadar zat besi dan kandungan protein dilakukan secara ilmiah di Laboratorium Analisis Pangan Politeknik Negeri Jember.
- Uji Daya Terima (Organoleptik): Pengujian sensoris untuk menilai rasa, warna, dan tekstur produk dilakukan secara langsung kepada panelis, yaitu 28 siswi kelas 8 di SMPN 1 Kalisat, Kabupaten Jember. Penelitian lapangan ini berlangsung secara intensif dari bulan Februari hingga April.
Temuan Utama: Semakin Tinggi Tepung Kedelai, Gizi Meningkat
Hasil pengujian laboratorium dan uji organoleptik memberikan titik terang bagi pengembangan produk pangan fungsional ini:
- Peningkatan Kadar Zat Besi dan Protein: Peneliti menemukan tren penambahan yang linear. Seiring dengan meningkatnya proporsi tepung kedelai dan menurunnya proporsi tepung sorghum, rata-rata kadar zat besi dan protein pada cookies justru mengalami peningkatan yang signifikan.
- Formulasi Terbaik (X3): Nilai rata-rata tertinggi untuk kandungan gizi ditemukan pada formula perlakuan X3. Formulasi ini menghasilkan kadar zat besi sebesar 4,79 mg dan kadar protein mencapai 14,89 g.
- Daya Terima Rasa (X1 dan X2): Dari aspek sensoris, formula perlakuan X1 dan X2 menjadi yang paling diminati oleh remaja putri. Sebanyak 50% panelis memberikan penilaian Sangat Suka (SS) terhadap rasa dari kedua varian tersebut.
Secara umum, analisis statistik menyimpulkan bahwa penambahan tepung sorghum dan tepung kedelai memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap peningkatan fungsional kadar zat besi dan protein. Menariknya, intervensi bahan ini tidak memberikan perbedaan perubahan yang merusak atau menurunkan penerimaan panelis terhadap kualitas rasa, warna, maupun tekstur asli cookies.
Kesimpulan: Solusi Camilan Preventif
“Penambahan tepung sorghum dan tepung kedelai pada produk cookies efektif meningkatkan kadar zat besi dan protein tanpa mengurangi daya terima fisik produk,” tulis tim peneliti dalam kesimpulannya.
Inovasi rekayasa pangan hasil riset FKM Universitas Jember ini membuktikan bahwa penanganan anemia tidak selalu harus bergantung pada pemenuhan tablet tambah darah (TTD) medis secara monoton. Melalui diversifikasi pangan berbasis tanaman lokal seperti sorghum dan kedelai, masyarakat dapat memproduksi alternatif camilan sehat, lezat, dan bernilai gizi tinggi yang siap mendukung program pencegahan anemia pada remaja putri secara berkelanjutan.