Era digitalisasi kesehatan menuntut pelayanan yang serba cepat dan terkomputerisasi. Namun, di balik efisiensi tersebut, ada ancaman kesehatan tersembunyi yang mengintai para tenaga administrasi dan rekam medis di rumah sakit, yakni Computer Vision Syndrome (CVS).

Merespons isu kesehatan kerja yang krusial ini, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ), Siti Nur Dalela Indah Wiladatika, melakukan penelitian mendalam. Di bawah bimbingan dosen Anita Dewi Prahastuti Sujoso, riset bertajuk “Keluhan Computer Vision Syndrome pada Petugas Rumah Sakit dan Faktor Risiko yang Terkait” ini menyoroti kondisi para petugas rekam medis dan pendaftaran di Rumah Sakit Daerah (RSD) X, Kabupaten Jember.

Aktivitas di unit kerja rekam medis dan pendaftaran menuntut para petugas untuk menatap layar komputer dalam durasi yang sangat panjang setiap harinya. Kondisi ini sangat berpotensi memicu CVS—kumpulan gejala gangguan mata dan penglihatan—yang jika dibiarkan dapat menghambat produktivitas kerja, menurunkan output layanan, hingga memicu peningkatan human error (kesalahan kerja).

Membedah Faktor Penyebab CVS di Lingkungan Rumah Sakit

Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menyebarkan kuesioner komprehensif kepada para petugas. Siti Nur Dalela menguji berbagai variabel independen yang dikelompokkan ke dalam empat kategori utama:

  1. Faktor Individu: Usia, jenis kelamin, pendidikan, masa kerja, penggunaan kacamata, dan posisi ergonomis.
  2. Faktor Lingkungan Kerja: Pencahayaan, suhu, dan kelembapan ruangan.
  3. Faktor Pekerjaan: Lama waktu bekerja di depan komputer dan durasi istirahat.
  4. Faktor Komputer: Jarak mata ke monitor, posisi monitor, jenis monitor, penggunaan pelindung anti-silau (antiglare), dan polaritas monitor.

Empat Faktor Risiko Utama Temuan Riset

Dari sekian banyak variabel yang diteliti, hasil analisis uji statistik Chi-square menemukan empat faktor utama yang terbukti memiliki hubungan signifikan dengan munculnya keluhan CVS pada petugas rekam medis di RSD X Jember. Keempat faktor tersebut adalah:

  • Masa Kerja (p = 0,027): Petugas yang telah bekerja lebih lama memiliki akumulasi paparan yang membuat mereka lebih rentan mengalami keluhan penglihatan.
  • Pencahayaan Ruangan (p = 0,027): Tata cahaya ruangan kerja yang tidak memadai, baik terlalu redup maupun terlalu menyilaukan, secara signifikan memperberat beban kerja mata.
  • Lama Kerja di Depan Komputer (p = 0,044): Durasi menatap layar yang berlebihan tanpa diselingi jeda istirahat yang cukup terbukti memicu kelelahan mata kronis.
  • Jarak Mata ke Komputer (p = 0,023): Posisi layar yang terlalu dekat dengan mata pekerja memaksa otot mata bekerja lebih keras untuk fokus, sehingga mempercepat timbulnya gejala CVS.

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti FKM UNEJ menyimpulkan bahwa intervensi ergonomi dan modifikasi lingkungan kerja sangat mendesak untuk dilakukan. Pihak manajemen rumah sakit direkomendasikan untuk mulai mengatur ulang tata cahaya ruangan rekam medis, menyesuaikan jarak pandang standar pada stasiun kerja komputer, serta mengedukasi petugas mengenai pentingnya jeda istirahat mata berkala (seperti metode 20-20-20) guna menekan angka kejadian CVS.

Referensi:

http://dx.doi.org/10.33846/sf16126