Penyakit Tuberkulosis (TBC) pada kelompok usia anak masih menjadi ancaman mematikan dan masalah kesehatan masyarakat yang serius, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Merespons urgensi global tersebut, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (UNEJ), Adistha Eka Noveyani, memimpin sebuah kajian literatur berskala internasional guna memetakan akar permasalahannya.

Penelitian bertajuk “Prevalence and Associated Factors of Children Tuberculosis in Southeast Asia Countries: A Systematic Review” ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara akademisi FKM UNEJ dengan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS).

Riset ini bertujuan untuk mengkompilasi dan menganalisis secara komprehensif bukti-bukti ilmiah terkait angka kejadian (prevalensi) serta faktor risiko yang memicu TBC pada anak-anak di negara-negara Asia Tenggara.

Metodologi Riset yang Ketat dan Terukur

Untuk mendapatkan data yang akurat, tim peneliti melakukan tinjauan sistematis (systematic review) dengan menelusuri empat basis data jurnal ilmiah terkemuka di dunia: PubMed, Scopus, Embase, dan Web of Science. Artikel yang dijaring adalah publikasi berbahasa Inggris yang diterbitkan dalam kurun waktu satu dekade terakhir (2013–2023).

Riset ini dilaporkan menggunakan panduan standar internasional PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis) dan kualitas setiap artikel dievaluasi secara ketat menggunakan instrumen Joanna Briggs Institute (JBI). Dari serangkaian seleksi tersebut, terdapat delapan studi berkualitas tinggi yang memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut.

Temuan Kunci: Prevalensi Tinggi dan 6 Faktor Risiko Pemicu

Dari hasil analisis kedelapan studi tersebut, riset ini mengungkap sejumlah fakta krusial terkait kondisi TBC anak di Asia Tenggara:

  • Variasi Prevalensi yang Mengkhawatirkan: Angka prevalensi TBC pediatrik (anak) di kawasan Asia Tenggara ditemukan sangat bervariasi, yakni merentang dari 1,50% hingga menyentuh angka 38,10%. Angka tertinggi ini menunjukkan bahwa penularan TBC pada anak di beberapa negara kawasan ini masih sangat masif.
  • Enam Faktor Risiko Utama: Penelitian ini juga berhasil merangkum berbagai faktor yang terbukti meningkatkan risiko seorang anak tertular dan mengembangkan penyakit TBC. Faktor-faktor tersebut meliputi:
    1. Status Gizi: Anak dengan malnutrisi memiliki sistem imun yang lebih lemah untuk melawan bakteri TBC.
    2. Status Vaksinasi BCG: Ketiadaan atau ketidaklengkapan imunisasi Bacillus Calmette-Guérin (BCG).
    3. Kontak Erat: Tinggal serumah atau memiliki riwayat kontak intens dengan pasien dewasa yang positif TBC.
    4. Perilaku Merokok Orang Tua: Paparan asap rokok pasif (sebagai second-hand smoker) merusak saluran pernapasan anak.
    5. Kondisi Lingkungan Tinggal: Rumah yang padat hunian, kurang ventilasi, dan tidak memenuhi syarat kesehatan (sanitasi buruk).
    6. Determinan Sosial Ekonomi: Faktor kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan keluarga yang berdampak pada minimnya akses kesehatan.

Landasan Kuat untuk Kebijakan Eliminasi TBC

Adistha Eka Noveyani dan tim kolaborator menyimpulkan bahwa tingginya prevalensi TBC di beberapa negara Asia Tenggara, khususnya pada populasi rentan seperti anak-anak, menuntut perhatian ekstra dari otoritas kesehatan masyarakat global.

Hasil riset ini tidak hanya sekadar memaparkan angka, tetapi menyajikan sintesis faktor risiko yang sangat berharga. Enam faktor risiko yang telah dirangkum tersebut diharapkan dapat dijadikan fondasi atau basis evidence bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam merancang intervensi yang lebih tajam, tepat sasaran, dan komprehensif guna menurunkan kasus serta memutus mata rantai penularan TBC pada anak di masa depan.

Referensi:

Lestyoningrum, S. D., Noveyani, A. E., Putro, W. G., Faisal, D. R., Purwatiningsih, Y., Mikrajab, M. A. and Nugraheni, W. P. (2025) “THE COST OF TREATMENT FOR PEDIATRIC TUBERCULOSIS PATIENTS: A CROSS-SECTIONAL STUDY”, Indonesian Journal of Health Administration (Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia), 13(2), pp. 142–151. doi: 10.20473/jaki.v13i2.2025.142-151.